Lima Produk Bercuan Menggiurkan dengan Dana Minimalis

“In investing, what is comfortable is rarely profitable.” – Robert Arnott.

.

Banyak penasehat keuangan bilang investasi sebaiknya dimulai dari usia muda.  Penyebabnya karena  prinsip hidup “Muda Foya Foya, Tua Kaya Raya” tampak semakin mustahil bagi sebagian orang yang bukan keturunan taipan, beruntung dalam berbisnis atau  keturunan keluarga cendana. Kalau mau tua kaya raya sebaiknya sih  investasi dari usia belia, bisa dari usia 16, 20 atau 25 tahun.

Investasi bisa menjadi modal untuk mengisi hari tua dan menambah aset keuangan kamu. Hari tua yang menyenangkan (secara finansial) adalah salah satu alasan mengapa sebaiknya kamu tak menunda  melakukan hal penting ini. (lebih cepat lebih baik)

Pedoman lama menabung pangkal kaya sudah jadi jargon usang kalau guru-guru kita semakin kreatif. Berinvestasi bisa ngasih hasil yang lebih baik ketimbang menabung. Sebagai contoh, jika kamu menabung di bank, return yang akan kamu dapatkan akan lebih kecil ketimbang berinvestasi di deposito.

Deposito bisa memberikan imbal hasil sebesar 4 sampai 6,5 persen setahun atau lebih tinggi ketimbang menabung yang hanya memberikan imbal hasil rata-rata sebesar 0,5 persen setahun.  Kebayang kan jika kamu hanya menabung ketimbang investasi ?

Menuai kekuatan finansial saat tua adalah bagian yang menyenangkan ketika berinvestasi. Tanpa basa-basi,  Illustrasi dibawah ini menjelaskan bahwa orang yang berinvestasi dari umur 20 tahun akan memiliki persiapan dana pensiun lebih tinggi ketimbang dengan yang memulainya dari usia 30 tahun.

Mitchell Bloom dari Blom Financial LLC menjelaskan  jika kamu menginvestasikan dana sebesar USD 300 per bulan di umur 20 tahun dan konsisten dengan bunga delapan persen pertahun, kamu akan mendapatkan USD 1 juta pada umur 60 tahun.

Berinvestasi dari umur 30 tahun dengan return yang sama akan membuat kamu mendapatkan USD 440.445 pada umur 60 tahun. Angka ini lebih rendah USD 550.000 dari investor yang memulainya pada usia belia alias 20 tahun.  Kondisi ini tak akan kamu dapatkan ketika hanya menempatkan uangmu di rekening tabungan.

Lihat aja perbedaan inflasi dengan tabungan. Jika inflasi rata-rata 5,12 persen selama delapan tahun (2009-2016) maka barang senilai Rp1 juta akan menjadi Rp1,5 juta pada 2016. Sementara jika uang kamu ditaruh dalam tabungan sebesar Rp1 juta , dengan bunga 0,50 persen setahun, kamu akan mendapatkan uang senilai Rp1.040.000 pada 2016.

Kalau uang sebesar Rp1 juta ditaruh di deposito dengan bunga enam persen setahun dalam kurun waktu yang sama (tanpa ditarik dalam delapan tahun) maka kamu akan mendapatkan dana sebesar Rp 1.503. 628 (belum dikurangi pajak deposito).

Investasi itu penting karena salah satu tantangan penduduk Indonesia yang akan mengalami pensiun adalah menjadi tua sebelum kaya alias telat sugih.  Perjuangan banting tulang saat muda bisa terasa hampa.

Dengan investasi, kamu berkesempatan untuk melipatgandakan keuangan kamu sebelum tua sehingga kamu tak perlu mengalami yang disebut “tua sebelum kaya” atau bahasa kasarnya sih gak kaya-kaya semasa hidup.

Ekonom Chatib Basri  mengatakan bahwa suatu saat akan banyak penduduk berusia tua (ageing population) Indonesia yang bisa  menjadi beban bagi negara.

Lelaki berkepala plontos itu  menjelaskan bahwa prediksi Price Waterhouse Coopers (PWC), pada tahun 2050, mengenai pendapatan per kapita USD20 ribu merupakan sinyal bahwa warga indonesia banyak yang menjadi tua sebelum kaya. Ini masalah yang dialami sandwhich generation karena mereka akan membiayai orang tuanya ketika mereka sudah berkeluarga.

Mantan menteri keuangan era Pak SBY itu pun menjelaskan bahwa pendapatan per kapita USD 20 ribu itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan dan hunian.  Oleh karena itu, selain bekerja, kita juga patut bersyukur sekaligus berinvestasi agar bisa memenuhi kebutuhan di masa tua.

Berapa alokasi dana yang ideal untuk Investasi ?

Semua tergantung dengan kondisi keuangan pribadi masing-masing.  Jika seseorang memilki cicilan sebesar 30 persen dari pendapatan maka dana untuk investasinya semakin kecil.

Jika orang itu tak punya utang maka biaya untuk investasi bisa semakin besar. Misalnya, saja investasi sebesar 50 persen dari pendapatan. Dari gaji Rp10 juta saja dalam sebulan, Rp5 juta atau setengah dari pendapatan sebulan bisa digunakan untuk investasi.

Untuk mulai berinvestasi, tentunya ada hal-hal yang harus kamu pelajari. Jika kamu menempatkan dana di aset yang berisiko seperti saham, misalnya, kamu akan melakukan trial and error.  Saat baru belajar kamu bisa saja tak memilih saham yang tepat alias gagal.

Tapi kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Alhasil, berinvestasi di usia muda akan memberimu banyak waktu untuk belajar bagaimana caranya memilih produk investasi yang tepat bagi karakteristik kamu (apakah tipe konservatif, agresif atau moderat) saat beban keuangan seperti cicilan rumah, KKB, dan tetek bengek lainnya membuntuti kamu.

Anggap saja semua pelajaran itu yang akan membuat kamu menjadi lebih kuat dan tahan terhadap lika-liku menjadi investor.

Ada banyak instrumen investasi yang bisa kamu pilih untuk melakukan ‘ternak’ keuangan kamu. Misalnya seperti saham, deposito, properti, reksa dana, peer to peer lending, dll. Berikut penjelasannya yang singkat dan padat ini.

Saham si Menarik dan Berbahaya

Investasi ini merupakan investasi yang  semakin terjangkau.  Investor bisa membeli minimal satu lot saham atau 100 lembar saham. Jika harga saham Rp280 per lembar saham maka anda cukup mengeluarkan dana sebesar Rp2,80.000.

Investasi saham bisa memberikan hasil yang  lebih oke ketimbang produk investasi lainnya seperti deposito. Jika kamu beruntung, saham bisa memberikan imbal hasil di atas 50 persen dalam setahun. Tapi kalau kinerja keuanganya lagi jelek harga sahamnya bisa anjlok.  Kinerja lima saham terbaik di 2018 dibawah ini bisa jadi gambaran sebelum berinvestasi saham.

Beberapa investor saham berhasil menghasilkan cuan  lumayan ketika mereka berinvestasi saat muda. Peter Lynch, investor kawakan via mengaku berinvestasi saat masih mahasiswa untuk membayar biaya kuliah magisternya. Saham yang dia beli itu Flying Tiger mendapat cuan dari perang vietnam tahun 1960 sehingga harganya naik lebih dari dua kali lipat.

Warren Buffet membeli saham pertamanya, Cities Service pada usia 11 tahun. Keduanya merupakan investor dunia yang dikenal memiliki kinerja saham yang baik dan berhasil mengalahkan kinerja wallstreet dalam jangka panjang.

Kedua orang itu memang jagoan di pasar saham global. Ga usah minder  Kok, kamu cuman perlu belajar laporan keuangan hingga baca buku dari  kakek-kakek diatas itu seperti One Up On Wall Street: How To Use What You Already Know To Make Money In The Market, Peter Lynch (2000) dan The Snowball: Warren Buffett and the Business of Life, Alice Schroeder (2009).

 

Berinvestasi di Fintech

Perkembangan teknologi melahirkan financial technology (fintech). Fintech ini menghasilkan banyak perusahaan P2P lending.

P2P adalah perusahaan yang menjadi perantara bagi pengusaha atau pribadi yang membutuhkan uang. Mereka pada umumnya menawarkan keuntungan yang lebih tinggi dari bunga deposito bank. Karena kalau lebih rendah mereka tampaknya tak perlu hadir di muka bumi ini…hehehe..

Investasi di P2P lending lumayan bagus untuk melawan besaran inflasi yang besarnya di kisaran 3 hingga 4 persen per tahun.

Suku bunganya mencapai 15 hingga 24 persen per tahun sehingga cocok bagi anak muda. Sebagai gambaran jika kamu menaruh dana Rp 5.000.000 (dengan asumsi bunga 24 persen) maka dalam setahun dananya akan mencapai Rp6.200.000.

Berbagai platform P2P lending juga memberikan fleksibilitas untuk memilih pembayaran imbal hasil atas investasi secara bulanan ataupun per periode, misalnya 3, 6 atau 12 bulan.

Nah  yang harus diperhatikan adalah besaran dari tingkat rasio kredit macet perusahaan yang dibiayai lewat P2P.  Karena kalau perusahaan peminjam tak bisa membayar maka risiko default ada di investor. (perusahaan P2P memilki kebijakan masing-masing mengenai ini)

Untuk menjaga tingkat risiko, sebelum memilih mendanai kegiatan proyek investasi, kamu sebaiknya melihat rating yang diberikan dari perusahaan P2P kepada perusahaan tersebut. Semakin tinggi rating maka risiko untuk default semakin mini.

 Reksadana si Produk Pintar

Pilihan selanjutnya bagi investor, yang ingin keuntungan lumayan dengan tingkat risiko moderat, adalah reksa dana. Moderat ini artinya tetap ada risiko tapi mini alis kecil.

Reksa dana itu adalah penyatuan dana dari berbagai investor yang dikelola secara bersama dalam sebuah portfolio investasi. Portfolio tersebut bisa terdiri dari saham, pasar uang, obligasi, surat utang dll.

Jenis reksa dana pun bervariasi dari reksadana saham, reksadana pendapatan tetap, reksadana pasar uang dan reksadana campuran.   Pergerakannya juga berbeda-beda. Ketika pasar saham naik biasanya reksadana saham akan naik. Ketika pasar saham jeblok biasanya reksa dana pasar uang yang naik.

Kalau lagi apes ya paling hanya berkurang sedikit dan kemudian bisa naik lagi dalam jangka waktu yang sesuai dengan kesabaran dan itikad kamu.   Kinerja reksa dana ini selama setahun bisa memberikan gambaran buat kamu sebelum berinvestasi.

 

Deposito yang Aman dan Terkendali

Berinvestasi di deposito bisa jadi pilihan investasi untuk kamu yang ingin menghindari risiko tinggi dan pengen santai.

Investasi jenis ini cenderung aman karena aman terhadap fluktuasi yang terjadi dalam pasar keuangan karena suku bunganya flat atau tetap. Di bank-bank besar, deposito bisa memberikan keuntungan sekitar 4-6,5 persen setahun, (ada juga yang 8 persen setahun).

Selain itu, deposito hingga nilai tertentu (besarnya dibawah bunga acuan LPS dan dibawah Rp2 miliar) juga dilindungi dengan jaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Good news-nya, bunga deposito lebih tinggi ketimbang tabungan. Tapi ada perjanjian tertentu yang membuat kamu hanya bisa mengambil investasi itu dalam waktu tiga bulan, enam bulan, setahun.  Melanggar perjanjian bisa membuat kamu harus bayar pinalti.

 Obligasi Ritel Indonesia untuk Negara

Imbal hasil Obligasi Ritel Indonesia (ORI) juga masih menarik buat investor. ORI bisa memberikan keuntungan stabil di kisaran tujuh hingga sembilan persen per tahun.  Dana investasi ini baru bisa dicairkan setelah tenor berakhir, biasanya setelah satu, tiga, atau lima tahun.

Kamu bisa mendapatkan keuntungan lebih ketika nilai yang dijaminkan dari penyertaan ORI naik. Ketika nilainya naik maka keuntungan kamu akan bertambah dua yakni dari kontrak perjanjian awal dan nilai penyertaan aset yang akan dijual kepada investor selanjutnya.

Ori juga terjangkau. Cukup dengan  Rp1 juta kamu bisa mulai berinvestasi di surat utang negara ini. Dana ini juga bisa memenuhi kebutuhan operasional negara seperti membangun proyek infrastruktur dll.

Di negara maju seperti jepang penetrasi surat utang yang dipegang rakyat sudah mencapai diatas lima puluh persen. Sedangkan di indonesia penetrasinya masih kecil karena banyak dipegang investor aseng.

Kinerja ORI, Reksadana, P2P , deposito dan saham cukup buat mengatasi inflasi. Kinerja setahun instrumen tersebut bisa jadi gambaran buat kamu yang masih pilih-pilih produk yang tepat untuk berinvestasi meskipun setahun bukan cara yang tepat untuk berinvestasi secara maksimal. (karena biasanya lebih dari tiga tahun)

Itu dia pilihan investasi yang bisa dipertimbangkan karena terjangkau ketika muda. Selain investasi jangan lupa untuk tetap sehat dan cuan selalu agar kamu sehat dan bisa menikmati masa tua (dan muda) dengan bahagia.

Image : Mad Rabbit.

Sharing is caring!

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *