Pelajaran Penting dari Tempat Kelahiran Apple Inc

“There’s no better place in the world for technology start-ups than Silicon Valley; there’s such an incredible well of talent and capital and resources,” Elon Musk.

Google berasal dari Silicon Valley. Dok; Dribble.

Banyak cerita inspirasi bisnis  dari Silicon Valley. Inovasi yang benar-benar keren. Di tempat ini pada era 1970 -an dua pemuda berambut panjang, Steve Jobs dan Steve Wozniak (keduanya pendiri Apple), dalam balutan celana jins militer, dengan modal minim serta, (bantuan dari toko perlengkapan Hobi Owen Roswell) berhasil menciptakan terobosan dalam dunia teknologi.

Mereka berdua memulai bisnis dengan membangun  seperangkat komputer di garasi. Kedua sobat karib itu  pun (lewat macintosh) berhasil  melawan dominasi Microsoft dalam bisnis perangkat keras komputer.

Apple dan mantan  startup lainnya seperti Facebook, Google lahir di  Sillicon Valley. Tak heran jika tempat ini dianggap sarangnya  para jenius teknologi berinovasi.  Inovasi yang bernilai jutaan dollar dari ide sederhana yang sebelumnya belum ada.

Kenapa Jenius ?

Jenius dari kata dasar genius menurut kamus Cambridge  identik dengan tingginya kemampuan ahli seseorang dalam teknologi atau seni.

Jenius juga kerap membuat hal sulit menjadi mudah.

(Jenius akan membuat rumus matematika rumit seperti perkalian sederhana)

Seperti Facebook memudahkan pesan warga dalam lintas global  yang tadinya dilakukan lewat email dan sepucuk surat…..

Sebagian orang lainnya melihat Silicon Valley tempat biasa-biasa saja yang beruntung melahirkan inovasi untuk mengubah perilaku sebagian orang (tak semua orang butuh Facebook dan Apple) dengan kecanggihan teknologinya.

Eric Weiner via The Geography of Genius (2008) menjelaskan cerita inspirasi bisnis dari Silicon Valley sebagai tempat yang tak spesial-spesial banget. Menurut doi  ini tempat bagi para jenius yang lemah.

Cerita Inspirasi bisnis dari Kegagalan dan Kesuksesan

Produk yang baru dihasilkan bisa menciptakan tren baru yang dinikmati pasar sedangkan kegagalan merupakan cerita lainnya yang ditutup kisah sukses.

Penemu aplikasi Einstyn merupakan salah satu cerita inspirasi bisnis terkeren meskipun gagal di tempat itu. Awalnya penemu aplikasi ini bersama dengan anak muda lainnya mendapatkan modal besar ketika memulai bisnis pertamanya.

Apesnya, aplikasi itu gagal total ketika launching. Aplikasi itu pun hilang dalam hitungan tahun. Pemuda itu bangkrut meskipun disebut sebagai pahlawan.

Kegagalan lainya adalah alat pelacak Global Positioning System (GPS) yang membuat orang menemukan kaus kaki bernama Scks. Aplikasi ini gagal setelah mendapatkan modal dari investor dalam jumlah yang sangat besar.

Sebenarnya sejauh penting apa sih aplikasi GPS untuk kaus kaki ? Sebodoh itukah kita untuk kesulitan mencari kaus kaki ?

Tak hanya mereka yang gagal. Banyak start up muncul dan tenggelam di kawasan ini meskipun perputaran idenya sangat cepat. Survey menyatakan hanya 10 persen start up yang berhasil di Silicon Valley. Sisanya gatot (gagal total) karena kesalahan manajemen dll….

Kegagalan sudah menjadi hal yang biasa-biasa saja buat pendiri  start up, terutama ketika banyaknya pesaing lain yang lebih inovatif dan berguna bagi khalayak luas.

Lalu, apakah arti  sempurna ?

Eric berusaha beragumen bahwa kesempuraan bukan hal penting dalam keberhasilan start up terutama ketika berhubungan dengan inovasi.

Dia mencontohkan pola papan QWERTY  yang tak sempurna tapi menjadi populer di dunia. Sama halnya dengam format VHS mengalahkan Betamax. Kemudian, VHS babak belur dengan DVD. Lalu muncul Blueray menggantikan DVD sebelum digantikan video streaming (apakah akan berhenti disini?).

Kesempurnaan adalah proses.

Ini seolah menjelaskan filosofi dari Sillicon Valley yang berbunyi “lebih baik memasarkan produk  tak sempurna hari ini daripada memasarkan yang sempurna besok”.

Intinya adalah seperti berlari paling cepat dalam perlombaan lari tanpa memikirkan daya tahan tubuh terlalu banyak.

“Ketika lampu bohlam diciptakan tak ada yang mengeluh cahayanya terlalu remang,” kata Steve Jobs.

Sementara dalam bisnis real, kegagalan tetaplah musibah. Apalagi ketika modal Anda tak kembali dalam satu atau dua tahun karena sepinya konsumen, kesalahan manajemen, persaingan bisnis atau biaya operasional yang mahal.

Jika itu keadaanya, kebanyakan pengusaha konvensional mengambil jalan lain ; gulung tikar dan mencari model bisnis lain.

Berevolusi Terus

Steve Jobs benar. Ketika ipod muncul tak ada yang meragukan kerennya produk ini. Ribuan lagu bisa direkam dalam satu genggaman tangan lewat alat tersebut. Hanya membawa benda seberat 15 gram dan berukuran 5cm x 10 cm, Anda bisa have fun mendengarkan lagu favorit dengan mudah.

Pada tahun 2008-an saya masih bisa melihat teman saya membawa Ipod kesana kemari. Mendengarkan musik di bangku kantin dengan earphone kecil berwarna putih.  Namun, di era 2018 kecenderungan itu sudah berganti.

Saya menduga salah satu penyebabnya karena kehadiran smartphone android yang harganya semakin murah ala Made in China  dan sebagian besar harganya jauh dibawah harga Ipod.

Semakin lengkap situasinya dengan kehadiran aplikasi streaming music digital.

Ok, siapa yang bisa menolak kehadiran Spotify, Joox dan teman-temannya yang juga bisa menyimpan ribuan (bahkan jutaan musik )di hampir semua gadget.

Dimana posisi Ipod sekarang ? (Ilihat data dibawah ini)

Chuck pengusaha di Sillicon Valley memaklumi perputaran itu.

Dia mengatakan ketidakstabilan merupakan hal yang biasa di Tempat itu. Bahkan dalam lima atau sepuluh tahun daftar perusahaan teratas di Silicon Valley kerap berubah total.

“Pergantiannya benar-benar luar biasa,” kata Chuck.

Koneksi Adalah Jalan Terpenting

Mengapa menerima kegagalan menjadi hal yang biasa ?

Dia mengatakan bahwa ada jaring pengaman yang luar biasa kuat ketika menjadi pelaku start up di daerah itu.

“Kebanyakan orang di bidang teknologi tinggi akan mengakui jika kehilangan pekerjaan mereka akan menemukan pekerjaan lainnya  yang lebih baik,” tambah Chuck.

Lapangan pekerjaan tak pernah sepi karena banyak pendatang baru yang menghasilkan penemuan terbaru. Ketika ada yang sedang jobless lowongan di aplikasi newbie itu membuka kesempatan kerja. Begitulah polanya.

Ditempat ini juga para genius seperti Steve Wozniak, Ted Hoff, Robert Noyce saling bertemu dipersimpangan jalan. Pemilik perusahaan bernilai jutaan dollar saling bertemu dalam kehidupan nyata.

Apa artinya ?

Sesungguhnya mereka saling terkoneksi satu sama lain. Ketika Steve Jobs merasa galau dia mendatangi Robert Noyce untuk meminta saran mengenai perkembangan Apple.

Pendiri Google malah mendatangi Jobs untuk minta bimbingan. Bos Facebook juga dikabarkan sering berdiskusi dengan Roger McNamee. Mereka saling menjadi mentor sama lain meskipun berada dalam ruang bisnis yang berbeda.

Para veteran yang lebih tua dan lebih bijak meneruskan pengetahuan mereka kepada padawan muda dengan penuh semangat.  Belajar kegagalan dengan dibantu mentor itu sebenarnya hanya bagian dari resep untuk menapaki jalan menuju kesuksesan (bukan keapesan).

Kegagalan adalah proses yang harus dinikmati.

Yang terpenting kegagalan bisa menjadi sarana pengalaman belajar yang bagus asal bertujuan membantu proses yang berkelanjutan.

“Segera habisi semua yang tak berhasil,” kata dia.

Tinggal di Silicon Valley tanpa koneksi kuat adalah kesalahan yang harus segera diperbaiki. Ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk memperkuat koneksi di daerah para genius berkumpul ini.

Pertama, mempelajari medan perang di daerah itu. Medan perang disini merupakan tempat dimana Anda harus mencari koneksi dan teman yang tepat. Kedua, adalah mencari orang-orang yang tepat  di sosial media atau jaring pertemanan lainnya. Ketiga adalah menjual kemampuan yang anda punya kepada orang yang anda temui.

Heather R Morgan, founder Salesfolk, menjelaskan bahwa kunci dari mencari mentor yang kuat adalah dengan melakukan perdagangan jasa atau skill kita  kepada si founder atau CEO (mirip seperti skill traficking ).

Pembicaraan keren tanpa kemampuan yang  bisa dijual biasanya tak menghasilkan apapun.

Belajar dari Yang Sudah Ada

Eric menjelaskan sebenarnya tak ada hal fundamental (maksudnya yang benar-benar baru) di Sillicon Valley. Semua yang fundamental sudah dimulai ditempat lain seperti transistor di New jersey,telepon seluler di Illinois, world wide web di Swiss serta penanaman modal di New York.

Mereka (para lucky genius) itu hanya mengubahnya dengan sentuhan teknologi seperti aplikasi whatsaap yang muncul setelah BlackBerry Massanger (BBM)  dan aplikasi snapchat yang muncul setelah adanya video.

Keberhasilan Sillicon Valley karena melibatkan banyak partisipan untuk merayakan penemuan itu. Perayaan maksudnya adalah adanya pemakai yang memberikan review secara suka rela dan berbagi data dengan ikhlas.

“Kita terlibat dalam pengembangan product ketika memakai google map atau membeli iproduct terbaru,” jelas Eric.

Tetapi kemajuan juga menuai badainya sendiri. Badai itu bernama  kesombongan. Muncul  kecenderungan untuk menciptakan sesuatu yang merusak atau bahasa kerennya disruptif.

Seperti cerita sukses dari binis aplikasi Uber yang merontohkan industri taksi. Uber juga menganggu penjualan kendaraan beroda empat karena generasi millenial menjadi semakin malas membeli mobil. Valuasi saham Uber bahkan sudah mendahului valuasi produsen mobil terbesar asal AS, ford dan bahkan Tesla-nya Elon Musk.

Padahal inovasi ini tak seharusnya menghancurkan sesuatu yang sudah lebih dahulu eksis.

Eric mengingatkan zaman keemasan muncul dari ide fundamental yang berbasiskan nilai kemanusian. Hal ini bisa membuat manusia menjadi lebih baik seperti yang ditampilkan dalam kelompok humanis di era zaman pencerahan atau renessaince.

Eric pun berpendapat bahwa Sillicon Valley akan ditemukan di tempat lain karena tak ada kesempurnaan paripurna di tempat itu.

Itu mengapa di beberapa belahan dunia lain muncul replika lain Silicon Valey seperti di Tokyo,  Berlin, Beijing, Boston dan kota lainnya.

Para inovator yang tadinya memiliki skill teknologi yang canggih berusaha  menjadi jawara di negerinya. Mereka menciptakan bisnis digital yang bukan kaleng-kaleng bahkan menjadi unicorn seperti  Alibaba (E-bay dari Beijing dengan skala grosir), Go-jek (versi ojek dari uber ), Line (versi lucu dari whatsaap) dll.

Mereka benar-benar menyempurnakan Sillicon Valley dengan memindahkan konteksnya lebih kepada persoalan regional. (ketidakahlian dalam bisnis regional menyebabkan uber kabur dari indonesia).

Resep sukses pengusaha konvensional sama seperti pengusaha start up. Bedanya dalam skala suntikan dana dan peluang yang selalu terbuka.

Pendiri startup yang beruntung  bisa menjadi pemenang (mendapatkan suntikan dana besar dari banyak investor yang menunggu giliran ) dan yang sial (tak parah-parah amat) berpeluang mendapatkan kesempatan di tempat lain.  Sementara itu, pengusaha konvensional cenderung hati-hati dalam menerima suntikan dana karena harus memikirkan cara mengembalikanya.

Enak  sekali ya.

Sharing is caring!

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *