Gak Butuh Bakat Besar untuk Sukses

Bakat adalah kata yang diucapkan guru kita saat bersekolah dasar. Seperti misalnya, ketika kita tak bagus menggambar guru bisa saja mengatakan “kamu tak punya bakat di seni”. Begitu juga ketika kita tak pandai berolahraga mereka akan mengatakan “kamu bukan ditakdirkan sebagai olahragawan”. Begitu juga sebaliknya.

Sepenting itukah bakat dalam menetukan kesuksesan ?

Jawaban yang terang tentang hal ini ditulis Angela Duckworth dalam The Power of Passion and Perseverance (2018). Faktanya bakat tak selamanya menentukan kesuksesan. Dia malah beranggapan bahwa kesuksesan dilahirkan dari kerja keras . Tanpa itu bakat alam tak ada hasilnya atau nihil.

Charles Darwin

Hal yang patut diingat adalah bagaimana Charles Darwin penulis teori asal usul manusia dalam On the Origin of Species (1981) mengaku bahwa dia bukan orang pintar atau jenius.

Dia mengaku hanya pemuda biasa yang menekuni pekerjaannya sebagai peneliti. Bahkan penulis biografinya mengatakan bahwa Darwin bukan orang luar biasa. Dia memang pintar namun kepintarannya tak datang dengan seketika.

Dia bukan matematikawan yang sangat baik atau seorang filsuf. Daya rekam ingatannya juga di bawah standar orang jenius.

“Saya tidak memiliki kecepatan pemahaman yang begitu luar biasa. Kekuatan saya untuk mengikuti pemikiran yang panjang dan murni abstrak sangat terbatas, ” ujar Darwin.

Salah satu peneliti lainnya Chia-Jung Tsay yang merupakan lulusan Harvard dalam bidang Psikologi dan memiliki gelar dua master itu, juga tak meraih kesuksesan tanpa kerja keras.

Chia yang juga ahli bermain Piano mengatakan yang membuat dia lihai bermain Piano tak lebih adalah karena hobinya dalam bermain musik.

Dia hanya menyukai musik dan berlatih selama empat sampai enam jam sehari pada saat kecil. Ditengah kesibukan untuk belajar dan aktivitas lainnya di kampus dia memilih untuk berlatih piano. Dia gak hanya punya talent semata tetapi kerja keras juga.

Kerja keras ini lahir karena kesukaanya dalam musik. Dia hanya suka bermusik karena memberikan sensasi tersendiri ketika berada di panggung.

“Ketika saya berlatih piano, saya membayangkan diri saya di panggung di depan penonton yang ramai. Saya membayangkan mereka bertepuk tangan,” ujar dia.

Bagi perusahaan besar talent adalah segalanya. Merekrut talent-talent istimewa berarti menginvestasikan dana kamu pada orang yang tepat dan memberikan keuntungan yang besar.

Namun apakah ini benar ?

Malcolm Gladwell si penulis novel bestseller Blink pun mengkritik pentingnya bakat. Dia mengatakan bahwa yang dicontohkan dalam perusahaan MckInsey itu salah.

Dia merujuk kepada kasus perusahaan Enron yang gagal bersinar. Ya Enron yang mendapatkan gelar perusahaan paling inovatif selama enam tahun oleh majalah Fortune sebelum akhirnya bangkrut pada 2001.

Enron jatuh pada akhir tahun 2001. Kejatuhan itu karena adanya kecurangan pola akuntansi secara sistematis dalam meraih laporan laba bersih.

Kejatuhan Enron adalah kebangkrutan perusahaan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.

Kebangkrutan Enron menandakan bahwa kebudayaan narsisme yang dilahirkan melalui talent akan membuat pekerjanya didorong untuk perilaku suka pamer dan terlena dengan kesuksesan palsu.

Ternyata mantan CEO Enron Jeff Skilling memang menciptakan budaya kerja yang menuntut bakat. Skilling mengembangkan sistem peninjauan kinerja untuk karyawan Enron setiap tahun dan tanpa ragu memecat 15 persen karyawan yang berada di peringkat terbawah.

Dengan kata lain jika kamu tak beruntung dan di posisi rendah terhadap yang lain, kamu dipecat. Skilling telah mengubah bakat-bakat itu untuk berperang satu sama lain untuk menggunakan cara-cara curang untuk bertahan. Bukti bahwa bakat seseorang pun ada batasnya dan tak bisa dipaksa terus menerus.

Persoalan talent ini adalah kisah lain dari kasus Scott Barry Kaufman. Seorang peneliti psikologi ini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca, berpikir,mengumpulkan data, melakukan statistik, dan menulis. Dia menerbitkan penelitiannya di berbagai jurnal ilmiah.

Dia memiliki ijazah dari Carnegie Mellon, Universitas Cambridge, dan Yale. Dia memainkan cello dikala senggang . Dia ini masuk dalam kategori bodoh atau bukan talent yang pintar saat SD.

Scot merupakan pria yang terlambat pintar saat SD. Dia mengaku lambat menyerap informasi ketika belajar. Akibatnya dia gagal naik kelas dan nilainya jelek. Titik baliknya datang ketika gurunya meyakinkan bahwa dia tak bodoh dan harus belajar di kelas khusus. Scottpun kemudian aktif belajar apa saja dari kelas latin, sekolah musik hingga Cleo.

Dia pun melamar di Carnegie Mellon Uniervsity dalam program ilmu eksak terapan. Dia ditolak. Kemudian dia mendaftar ke program opera. Dia kemudian fokus mempelajari musik. Pada tahun pertamanya dia mengambil kursus psikologi lalu kemudian mengubah studinya menjadi psikologi dan lulus.

WIll SMITH

Pemenang Grammy dan Nominasi Oscar Will Smith juga mengaku bukanlah aktor berbakat. Dia mengaku banyak aktor yang lebih baik dan berbakat sekaligus sexy. Dia hanya melakukan hal yang terbaik untuk hidup.

“Kamu bisa mencari talent lebih baik dari saya, lebih pintar dan sexy atau semuanya tetapi kalau kita ada di treadmill yang ada adalah dia akan menyerah duluan atau saya yang mati,” ungkap Smith.

Maybe salah satu bukti bahwa kerja keras akan menghasilkan lebih baik kesuksesan ketimbang kecerdasan atau talent adalah kisah yang dilakukan oleh Jhon Irving.

Iriving adalah salah satu penulis terbesar dari Amerika Serikat (AS) yang menghasilkan puluhan novel dan sebagian diantaranya diadaptasi ke film. Bukunya berjudul The World According to Garp memenangi the National Book Award dan Screenplaynya untuk The Cider House Rules memenangi Academy Award.

Irving mengaku menulis kembali semuanya dengan sempurna. Dia berusaha mengatasi kesulitan bakat yang dialaminya semenjak kecil. Ya Iring bukanlah orang bodoh saat kecil. Dia hanya pemuda yang menderita dislexia. Bahkan ketika teman kerjanya bisa membaca sejarah dalam sejam dia bisa membaca dalam dua atau tiga jam.

“Jika saya ga bisa membaca saya akan membuat list dari kata-kata yang sering salah saya ucapkan,”

Sepanjang hidupnya dia berusaha mengulang pemahaman agar mengerti. Dia melakukanya berulangkali agar mengerti. Dia berusaha keras dengan sabar untuk menjadi ahli. Sebuah kerja keras yang tak bisa dihasilkan dalam semalam suntuk.

“Aku percaya pada staminaku untuk mengulangi sesuatu lagi dan lagi, tidak peduli betapa sulitnya itu,” jelas dia.

Dia menghabiskan waktu lebih untuk merevisi novel atau screen play untuk menulis draft pertamanya. Pekerjaan menjadi penulis membuatnya lebih mudah untuk berekspresi dalam kata-kata ketimbang dengan profesi lainnya.

Artikel yang  masih nyambung : Sukses ala Jim Carey

“Dalam menulis novel, tidak ada salahnya bagi siapa pun untuk pergi dengan lambat. Tidak ada salahnya sebagai penulis harus mengulangi sesuatu lagi dan lagi, ” jelas dia.

Dengan rutinitas yang padat, Iriving menjadi salah satu penulis berbahaya dan berskill tinggi dalam sejarah. Dengan usahanya dia menjadi master dan memproduksi banyak cerita yang berhasil menyentuh jutaan pembaca.

Jelas bahwa tanpa kerja keras, talent tak berarti apa-apa. Bagi yang merasa tak memilki talent yang luar bisa juga bisa sukses dengan berusaha sekuat mungkin untuk menghasilkan output yang sempurna.

 

Sharing is caring!

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *