Murahnya Saham Indomobil, Bagus Buat Jangka Panjang ?

Saham PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (Indomobil) sudah turun sebesar 36 persen sampai saat ini. Anjloknya saham ATPM Suzuki ini bahkan sempat menyentuh titik terendah dalam lima tahun terakhir pada level Rp358 per lembar saham pada 24 Maret 2020.

Pelaku pasar menghargai murah saham ini karena labanya yang  sudah tak oke tahun lalu dan dilanjutkan dengan tiarapnya kinerja perusahaan pada semester I 2020 dengan merugi Rp403 miliar. Akibatnya harga sahamnya mencerminkan Price Book Value (PBV) sebesar 0,37 kali dengan Price earning ratio yang minus.  Secara valuasi, saham Indomobil pun masih lebih murah dari Astra International yang senilai 1,28 x.

Selain laba yang terpuruk, beban utang Indomobil juga gede. Berdasarkan lapkeu Semester I 2020, total utangnya itu bisa  empat kali lipat dari modalnya. Nah, dari utang yang segede gaban itu kebanyakan juga utang jangka pendek.  Aset lancarnya juga belum mampu nutupin total utang jangka pendeknya.  Arus kasnya saja bahkan belum cukup untuk biayain utang jatuh tempo perusahaan dalam setahun.

Oh, iya kalau soal kinerja,  Indomobil ini mirip kinerja General Motor (GM) yang naik turun. Bahkan Peter Lynch menyebut saham tipe GM ini harus dibeli disaat yang tepat, (maksudnya saat sahamnya lagi parah banget) dan langsung jual di harga tertinggi. Karena saham jenis ini termasuk turn around yang kinerja labanya cenderung naik turun. Hal ini bisa dilihat dari kinerja Indomobil yang baru berhasil meraih laba bersih pada 2018 setelah tiga tahun sebelumnya mencatatkan rugi bersih.

Nah melihat penjualan mobil yang alon-alon pada tahun ini dan (diprediksi) sampai tahun depan bagaimanakah prospek saham ini kedepanya ?

Sumber : Gaikindo

Tantangan bagi indomobil tak mudah di era kendaraan mobil listrik dan merek Datsun yang sudah kabur dari Indonesia. Apalagi pandemi covid-19 menyebabkan sejumlah orang kehilangan mata pencaharian utama sehingga penjualan mobil menjadi sulit bagi karyawan berpenghasilan menengah.

source : Lapkeu IMAS 2019

 

Kehilangan Datsun menjadi tugas tersendiri bagi kinerja Indomobil karena penjualan Datsun yang cukup lumayan. Penjualan Datsun pada 2019, misalnya, berhasil mencapai Rp 876 miliar atau diatas Suzuki yang hanya  berhasil menjual Rp515 miliar.

Datsun merupakan mobil murah yang cukup berkontribusi besar bagi segmen otomotif di grup IMAS pada 2019 ( untuk segmen mobil berpenumpang penjualan Datsun kedua dibawah Nissan).  Oh,iya, efek dari kurang okenya kinerja penjualan Indomobil bisa disebabkan oleh segmen otomotif yang kontribusinya terhadap total laba bersih perusahaan mencapai hampir 75 persen.

Source : Lapkeu IMAS 2019

Kemudian kalau mau bermain di pasar mobil listrik Indomobil ini juga tak mudah karena harus menghadapi pesaing berat seperti Hyundai dan Toyota (jika benar-benar masuk).  Baru KIA, pabrikan  di  grup indomobil yang sudah menyiapkan mobil listrik. Namun sayang penjualanya selama ini belum berkontribusi maksimal di grup.

Pasar mobil listrik ini masih sangat terbatas jika mengingat harganya yang masih Rp500 juta keatas, Persaingan akan semakin ketat kalaupun nanti ada pabrikan asal China yang berani mengeluarkan mobil listrik dengan harga diskon, (misalnya Rp300 juta), siapa tahu ?

Btw  untuk saat ini harga saham IMAS memang cukup murah. Bagi penggemar value investment saham IMAS menarik karena PBV dibawah 0,5x  dan termasuk yang murah di segmen otomotif. Belum lagi dengan sejarah Indomobil di pertarungan roda empat yang cukup berpengalaman.  Tentu saja jika penjualan mobil grup indomobil membaik maka penjualan akan terkerek dan laba bersih akan naik, sehingga ini bisa menjadi pilihan investasi buat jangka panjang.

Sayangnya sampai saat ini belum ada mobil murah baru dari Indomobil yang bisa menggantikan peran Datsun. Kalaupun ada bisa jadi peran itu diemban Suzuki yang punya banyak line up untuk mobil ber cc dibawah 1000 cc di Jepang dan India. Di jepang misalnya ada  Suzuki Hustler. Suzuki S-Presso juga gak kalah keren dari India. Kalau harga mobil-mobil keren itu setara dengan Toyota Agya misalnya, apakah ini bisa membantu pergerakan saham indomobil ?

Tapi kabar yang patut diwaspadai adalah ketika Pieter Tanuri, menjual seluruh saham Indomobil melalui perusahaan yang dimilikinya yakni PT Bina Raya Perkasa (BRP). Om Pieter berhasil meraih dana segar sebesar Rp783 miliar lewat transaksi ini.  Kemungkinanya ada dua, yakni Om Pieter tak mau berlama-lama berinvestasi di Indomobil atau memang dia lagi butuh duit…..entahlah..

Buat yang yakin dengan konglomerasi salim grup saham ini bisa dilirik kok.

Sharing is caring!

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *