Bedah Keuangan Widodo Makmur Unggas

Bahasan propektus singkat kali ini adalah calon emiten PT Widodo Makmur Unggas.

Perusahaan yang didirikan Tumiyana, mantan direktur Utama PT Wijaya Karya Tbk itu, memiliki bidang jualan ayam.

Bisnisnya mirip-mirip dengan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN).

Kehadiran Widodo Makmur Unggas di papan bursa memeberikan alternatif bagi penggemar saham unggas2-an.

So, kalau saham CPIN, JAPFA dan MAIN sudah dianggap kemahalan maka Widodo ini bisa jadi alternatif pilihan.

Kinerja Tiga Tahun Terakhir (2017-2020)

Kinerja calon penghuni papan perdagangan IHSG ini selalu naik dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2017 laba bersih Widodo Makmur Unggas sebesar Rp4,8 miliar, kemudian 2018 sebesar Rp7,74 miliar, pada 2019 naik menjadi Rp50,2 miliar, pada 31 Oktober 2020 menjadi Rp86,112 miliar

Laba Bersih Widodo Makmur Unggas Tiga Tahun Terakhir

Kenaikan laba bersih karena adanya peningkatan penjualan. Penjualan perusahaan naik pesat selama tiga tahun terakhir.

Penjualan Widodo Makmur Unggas mencapai Rp90 miliar pada 2017, Rp150 miliar pada 2018, Rp576 miliar pada 2019, dan Rp940 miliar pada 31 Oktober 2020.

Penjualan Widodo Makmur Unggas (2017-Okt-2020)

Akibatnya laba per saham naik dari 8,88 pada 2017 menjadi Rp12,45 per lembar saham pada Oktober 2020.

Sementara itu, arus kas perusahaan terus naik dari Rp9,7 miliar (2017) menjadi Rp14,24 miliar pada Juni 2020.

Kenaikan ini berbanding lurus dengan aset lancar perusahaan dari Rp46,5 miliar pada 2017 menjadi Rp346 miliar pada 20 Juni 2020.

Bagian yang bisa memberikan risk bagi kinerja perusahaan yakni, utang, mencapai Rp670 miliar pada 31 Oktober 2020.

Ekuitas Widodo Makmur Unggas mencapai Rp666 miliar pada waktu yang sama. Ratio Debt to Equiy Ratio (DER) pun mencapai 1x.

Rasio utang dengan ekuitas terus menurun dalam tiga tahun terakhir. (lihat grafik).

Rasio utang dengan ekuitas

Segmen Bisnis

Sebagian besar pendapatan Widodo Makmur Unggas ini berasal dari ayam potong.

Tak main-main porsinya mencapai 78,7 persen dari total penjualan. Kontributor kedua adalah ayam broiler komersial.

Bisnis ayam potong semakin meningkat jika melihat pola bisnis mirip franchise Ayam Sabana dkk yang bersliweran di pinggir jalan.

Harga ayam yang terjangkau membuat bisnis ini disukai masyarakat. Meskipun ada isu ayam tiren tetap saja orang-orang doyan.

Namun sejauh ini saya belum mendapatkan kontribusi data penjualan ayam potong Widodo ke franchiser yang berjualan di pinggir jalan itu.

Sementara itu, bisnis ayam karkas tak bisa dilepaskan dari ayam broiler sebagai bahan baku utamanya. Itu mengapa penjualan antar segmen perusahaan lumayan tinggi.

Ayam karkas bisa memberikan nilai lebih ketimbang ternak ayam broiler karena ada proses pemotongan yang dilakukan perusahaan yang dihargai konsumen (pemilik usaha dll).

Secara historis, karkas menunjukan harga yang relatif lebih tinggi dari pada ayam pedaging (broiler) dengan harga Rp34.028/kg sedangkan ayam broiler tercatat Rp17.301/kg pada 2019 pada tahun ini.

Hanya saja bisnis karkas perusahaan juga bersaing big player di bisnis ayam-ayaman seperti CPIN, dan MAIN.

Kalau dilihat dari persaingan antar emiten, maka Widodo bisa masuk ke dalam saham small cap dibandingkan dengan kompetitornya seperti JAPF dan CPIN yang asetnya sudah mencapai puluhan triliunan rupiah.

Total aset Widodo Makmur Unggas  baru mencapai Rp 1,3 triliun.

Tertarik ?

Sharing is caring!

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *