Cara Joe Gebbia dan Brian Chesky untuk memupus kesulitan ekonomi melahirkan startup Airbnb. Produk ini menjadi pelopor bisnis sewa menyewa rumah, hotel dan apartemen secara online. 

Brad Stone via The Upstarts How Uber, Airbnb and The Killer Companies of the New Sillicon Valley Are Changing the World (2017), bercerita Airbnb lahir dari Chesky yang tak puas dengan pekerjaannya.

Apalagi ketika desain toilet masa depanya sempat dikritik tajam dalam acara Simon Cowell.

Keluhan ini karena dia merasa pekerjaan itu sangat jauh dari Steve Jobs, pendiri Apple sebagai motivator anak muda AS sebagai techpreneur.

Sementara sang sobat karib, Gebbia tinggal di San Fransisco. Profesi pertamanya adalah menjual bantal dengan merek CritBuns di apartemennya.

Dari 800 bantal, dia hanya berhasil menjual empat bantal kepada sebuah butik di downtown Providence.

Dua pendiri Air Bnb saat itu sedang alami kesulitan keuangan. Gebbia pun mengirimkan pesan bagi Chesky untuk memulai ide awal Airbnb.

Jurus Kepepet Founder Airbnb

Jurus kepepet jadi langkah awal bagi mereka.

Ide ini semakin kuat saat Chesky pindah ke Rusch Street, San Fransisco, karena dia gak punya uang untuk bayar sewa.

Nah, salah satu caranya adalah dengan menyewakan ruangan apartemen lainnya di San Fransisco kepada peserta World Design Congress selama empat hari lewat internet.

Apartemen dengan fasilitas internet, tempat tidur dan makan pagi tiap hari.

Situs Airbnb dibuat dengan alat sederhana dari WordPress selama tiga hari.

Situs ini terdiri dari warna pink dan biru untuk bagian kata dan konsep yang menjelaskan Airbnb menyediakan harga yang bersahabat dengan panduan ke kota tujuan.

Awalnya sih mereka raih cukup uang untuk membayar rental penginapan dan menyadari bahwa bisnis ini cukup potensial.

Solusi ini muncul karena mereka yakin banyak tarif hotel yang mahal dan Airbnb memberikan harga yang lebih murah.

Pantang menyerah

Namun, pada awalnya tak ada yang menyangka bisnis ini menjadi besar termasuk Nathan Blecharczk, engginer dari Harvard , yang ikut mendirikan Airbnb.

Tapi Airbnb tetap berjalan.

Tiendung Le, murid dari Vietnam, yang sedang mengambil program doktoral di AS memberikan stimulus baru.

Tiendung yakin konsep sharing apartmen bermasa depan cerah.

Le juga mengenalkan salah satu pengusaha Michael Seibel yang punya jaringan luas kepada Chesky.

Chuscky mempromosikan ide Airnbnb ke Michel Seibel.

Seibel jadi mentor utama bagi bisnis ini untuk mencari investor.

Setiap hari jumat Gebbia dan Chesky membawa design web baru ke Seibel.

Mereka menganalisa progresnya, mencari masalah baru dan memberikan perbaikan untuk sistemnya.

Untuk mempelajari bisnis start up, mereka datang ke Startup Schooll yang dibuat oleh inkubator startup Y yang diselenggarakan oleh Stanford University.

Sebagian dari pembicaranya adalah CEO Amazon Jeff Bezos dan Marc Andreessen.

Seibel memperkenalkan mereka ke tujuh investor.

Chesky memberi tahu mereka mengenai alasan dia mendirikan Airbnb serta meminta seratus lima puluh ribu dolar untuk pendanaan awal.

Ia menerima lima penolakan terang-terangan.

Hampir semua investor khawatir tentang segmentasi pasar Airbnb.

Mereka menilai tidak adanya kedekatan profil pendiri itu, dengan tokoh beken dalam Silicon Valley.

Mereka tidak iconic seperti Mark Zuckerberg atau Steve Jobs.

Mahasiswa jurusan desain yang membuat start up dianggap lebih buruk ketimbang mahasiswa Ilmu komputer lulusan Stanford yang drop out.

Masa-Masa Sulit Airbnb

Situasinya semakin sulit.

Semua tabungan Chesky habis. Gebbia terlilit utang. Para pendiri itu sudah hampir putus asa.

Beruntung dua ratus tamu baru mendaftar setiap minggu pada Agustus.

Airbnb mengumpulkan komisi sekitar dua belas dolar untuk setiap pemesanan seratus dolar per malam.

Sebagian dari tamu itu, termasuk dari acara konvensi partai demokrat di Denver.

Acara ini dihadiri oleh 80.000 anggota Partai Demokrat. Kebetulan The Mile High City tidak punya cukup kamar untuk para tamu dalam acara itu.

Tapi kemudian, setelah itu jumlah pemesanan baru setiap minggu menyusut di bawah sepuluh kamar.

Lagi-lagi Chesky frustasi.

Ini adalah masa – masa sulit bagi proyek Airbnb saat itu.

Mendapatkan Mentor yang Tepat

Paul Graham, salah satu investor kawakan, menyarankan Airbnb memiliki grafik presentasi yang menunjukkan peningkatan keuntungan.

Pendiri Airbnb, yang saat itu hampir tidak memiliki pendapatan secara stabil, apalagi keuntungan, menjadi bahan ledekan.

Graham juga masih skeptis terhadap bisnis Airbnb.

Untuk meyakinkan Graham, Gebbia dan Chesky terbang ke New York untuk berbicara dengan pemilik rumah yang ingin mendaftar di layanan Airbnb.

Masalahnya adalah mereka tidak mempresentasikan properti online miliknya dengan cara yang menarik.

Kebanyakan foto-foto itu berbintik-bintik dan biasanya diambil dengan ponsel jadul.

Graham menemukan banyak pemilik properti memiliki gaya pemasaran yang buruk.

Dia harus membantu mereka cara efektif menjual barang di internet.

Graham mengidentifikasi aplikasi ini mirip ‘eBay, tetapi untuk ruangan atau kamar’ dan mendesak mereka memikirkan merek mereka seperti perusahaan raksasa lelang.

Kemudian para pendiri itu mengubah namanya dari Airbedandbreakfast.com ke Airbnb.com agar lebih singkat.

Raih Big Fund

Lambat laun investor baru datang.

Greg McAdoo yakin ide ini nyata selama bisa memberikan kepuasan bagi konsumen.

Kemudian Sequoia, salah satu perusahaan papan tengah di Silicon Valley yang dikelola Greg, menginvestasikan USD 585.000 untuk sekitar 20 persen kepemilikan saham dari Airbnb.

Formasinya pun sudah semakin jelas Chesky sebagai CEO, Gebbia sebagai Chief Product Officer dan Nathan Blecharczyk sebagai Chief Technology Officer.

Tetap Hemat Saat Semuanya Berjalan

Greg mengakui kehebatan para pendiri ini dalam berhemat.

Greg memberi tahu mereka untuk tetap berinvestasi dengan mulai mencari karyawan baru karena pada awalnya mereka menolak untuk mengangkat pegawai untuk bagian keluhan konsumen.

Para pendiri bekerja tujuh hari seminggu dengan semangat persaudaraan yang seru.

Mereka sesekali beristirahat untuk pergi ke gym atau nongkrong di atap.

Seminggu sekali, mereka pergi ke taman terdekat di Folsom Street untuk istirahat dan bermain sepak bola.

Pada hari Jumat mereka biasanya pergi ke bar untuk happy hour.

Pemasaran Kreatif

Pada akhir 2009 Airbnb membuat mekanisme yang secara otomatis mengirim e-mail kepada siapa saja yang memposting properti di Craiglist untuk menyewakan tempatnya di Airbnb.

Bahkan jika orang itu tidak ingin menerima pesan yang tidak diinginkan. Jika apartemen terdaftar di, katakanlah, Santa Barbara, e-mail akan berbunyi :

“Hai, saya mengirim e-mail karena Anda memiliki tempat terbaik di Craigslist di Santa Barbara dan saya ingin merekomendasikan Anda menampilkannya di salah satu situs perumahan Santa Barbara terbesar di Web, Airbnb situs ini sudah memiliki 3.000.000 pengunjung setiap bulan,”

Semua email menyesuaikan dengan kota yang disasar dengan akun Gmail bernama wanita.

Iklan ini mengundang kritik karena mengandung spam.

Ceruk Pasar

Nathan Blecharczyk mensiasatinya dengan sistem iklan Facebook yang cerdas dengan mencari niche atau segmen tertentu.

Iklan yang untuk pertama kalinya memungkinkan perusahaan menargetkan iklan untuk minat dan hobi dari profil anggota mereka.

Jika seorang pengguna menyukai hobi Yoga,dia akan melihat iklan dari Airbnb di Facebook berbunyi“Sewakan kamar Anda untuk pelaku Yoga!” Jika seseorang menyukai anggur, dia akan melihat “Sewakan kamar Anda untuk pecinta Wine dan seterusnya.

Situs Airbnb meraih tujuh ratus ribu pemesan di delapan ribu kota serta memulai aplikasi baru untuk iPhone.

Mereka sadar harus menjadikan layanan pelanggan sebagai prioritas.

McAdoo menyarankan mereka mengambil pelajaran dari peritel sepatu Zappos.

Zapoos meraih loyalitas pelanggan dengan menerima pengembalian barang yang reject tanpa pertanyaan apapun.

Salah satu investor yang tertarik kepada Airbnb adalah Reid Hoffman, co-founder dan chairman LinkedIn dan mitra di Greylock Capital.

Hoffman awalnya skeptis terhadap proyek Airbnb.

Lalu Chesky menemuinya di kantor Greylock di Sand Hill Road untuk menjual visi Airbnb sebagai jaringan hotel terbesar di dunia tanpa beban gedung atau memiliki banyak pekerja.

Hasilnya, bisnis Airbnb semakin berkembang sehingga merambah berbagai kota di dunia termasuk indonesia.

Seiring berjalannya waktu Airbnb juga mulai kedatangan pesaing yang menawarkan service serupa. Tapi sampai sekarang Airbnb tetap pelopor, yang awalnya diragukan.

Artikel mengenai emiten.

Sharing is caring!

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *