Langkah exit strategy startup bermacam-macam. Strategi dari  Elon Musk menjadi contoh tak semua bisnis startup bisa berjalan lama. Startup pertama Elon Musk Zip2 sudah tak beroperasi lagi.

Kisah ini muncul dari gairah Elon Musk  ketika bekerja di Pinnacle Research Institute. Pinneacle adalah startup yang membuat ultracapacitors sebagai alat alternatif untuk bahan bakar kendaraan listrik dan hybrid.

Elon Musk melihat Sillcon Valley sebagai kesempatan untuk meraih kesempatan menjadi miliuner. Bahkan Musk  hanya dua hari berkuliah di Stanford kemudian drop out dan fokus ke bisnis internet.

Elon Musk mengajak Kimbal Musk pergi ke Sillicon valley untuk mengembangkan bisnis web. Ide pertamanya adalah memberikan layanan online perusahaan sebagai pelengkap data kepada Yellow Pages. Dia gagal.

Startup Pertama Elon Musk..

Kegagalan itu malah membuat Elon semakin bersemangat. Pada 1995 Elon dan saudaranya membuat startup Global Link Information Network (GLI).

GLI adalah tempat bagi pemilik restoran, penjual baju sampai penata rambut untuk memasarkan produknya di internet….

Usaha Elon Musk dimulai dari Gedung perkantoran di 430 Sherman, Palo Alto. Bangunan yang sederhana tanpa lift dan toilet. Untuk meraih koneksi internet yang cepat, Musk bekerja sama dengan Ray Girorard, pengusaha yang menyediakan internet, yang kantornya dibawah GLI.

Selama itu pula Elon Musk membayar sewa kantor secara rutin. Musk melakukan coding secara mandiri. Dia juga meraih lisensi untuk data base dan perusahaan di Bay Area. Dia berhasil mendapatkan data nama perusahaan dan alamatnya dengan harga yang murah. Data ini yang nantinya akan menjadi alat Musk untuk mempromosikan layanan internetnya.

Kemudian Musk bekerja sama dengan Navteq, perusahaan yang menghabiskan jutaan dollar untuk membuat peta digital yang biasa digunakan untuk GPS. Musk membujuk Navteq agar bisa mendapatkan peta itu dengan harga yang murah.

Masa Sulit…

Saat itu bukan waktu yang mudah bagi Elon. Elon meraih dana $ 28000 dari ayahnya selama periode yang memprihatinkan. Uangnya hanya habis untuk sewa kantor, membeli lisensi software dan beberapa perlengkapan. Selama tiga bulan pertama Musk dan Kimbal tidur di kantor. Mereka bahkan hanya memiliki satu kamar kecil dan kamar mandi.

Kemudian kedua bersaudara ini menyewa dua tempat tidur apartement. Mereka ga punya uang untuk membeli furniture. Jadi didalamnya hanya ada beberapa matras di lantai.

Karena belum ada modal gede, Musk berusaha meyakinkan engginer muda asal korea selatan untuk bekerja magang di GLI dengan imbalan sewa apartemen gratis karena tak bisa menggaji mereka.

GLI dibuat untuk memasarkan bisnis konvensional di abad digital. Keberadaan GLN diluar bisnis jadul yang menjual barang secara door to door. GLN dianggap aneh saat itu.

Keberuntungan Elon datang saat berhasil merekrut Craig Mohr yang berhasil membawa $900 dari periklanan di GLI. Elon pun meminta Craig untuk menghabiskan uang itu sendirian.

Meraih Investor Kawakan…

Kerja keras Musk membuat GLN semakin berkembang dan menarik investor. Musk berhasil membujuk Greg Kouri untuk menanam uang $6000 pada awal 1996 dan pindah ke California untuk menjadi co-founder GLN. Greg sang pengusaha real estate akhirnya menjadi mentor Musk. Greg menjadi penengah ketika Elon dan Kimbal bertengkar satu sama lain.

Kemudian, salah satu Venture Capital (VC), Mohr Davidow Ventures juga tertarik berinvestasi  sebesar $ 3 juta. Saat itu juga GLN berubah menjadi Zip2.

Dengan masuknya investor, Zip2 pun mengembangkan teknologinya dari hanya wilayah Bay Area menjadi skala nasional. Fokus perusahaan berkembang selain bisnis periklanan dengan menciptakan software kepada koran untuk pemasang iklan real estate, penjual mobil dan iklan lainnya. Zip2 membantu koran mengembangkan teknologinya untuk pemasang iklan.

Musk pun mendapatkan uang sebesar $30.000, begitu juga dengan Kimbal. Musk membeli Jaguar E-Type dan Kimbal membeli BMW 3 Series.

Menjual Layanan….

Zip2 pun sukses menjual layanannya kepada beberapa surat kabar. Beberapa surat kabar yang berlangganan adalah New York Times, Knight Rider, Hearst Corporation dan media properti lainnya.

Zip2 raih pendapatan dari media sebesar $50 juta. Bisnisnya semakin gede setelah layanan seperti Craiglist berkembang dan memberikan peluang bagi periklanan online.

Musk merekrut banyak pegawai sehingga pada 1997 Zip2 memutuskan pindah ke tempat yang lebih besar di 444 Castro Street in Mountain. Kemudian langkah besar lagi ketika pada 1998, Zip2 berusaha merger bersama City Search (CS) dengan kesepakatan senilai USD300 juta.

CS memiliki file berbagai kota serta memiliki divis penjualan dan pemasaran yang bagus. Merger ini gagal dan Zip2 akhirnya berusaha mencari investor lagi.

Setiap bisnis yang sukses selalu menyisakan peniru. Saat itu Microsoft sudah mulai berbisnis dengan gaya yang sama dengan Zip2. Microsoft mulai melakukan pendataan real estate, perumahan serta perusahaan otomotif .

Menjual ke Compaq..

Nah, salah satu cara untuk bertahan adalah  dengan menjualnya di saat yang tepat. Pada Februari 1999, pembuat Personal Computer (PC), Compaq memutuskan untuk membeli Zip2 senilai $ 307 juta dengan uang cash.

Sebagai pembuat PC terbesar saat itu Compaq  yakin bisa menjadi pemenang dalam dunia search engine atau pencarian data di internet seperti Yahoo,  Lycos dan  Excite. Apalagi saat itu Zip2 sudah memiliki rekanan 60 koran dari 100 kota besar.

Direksi Zip2 menerima tawaran ini dan membuat Mohr mendapatkan uang investasi senilai dua puluh kali dari nilai investasi awalnya. Elon Musk pun mendapatkan $ 22 juta. Kimbal Musk mendapatkan $ 15 juta.

Setelah dijual ke Compaq Computer Corporation, startup buatan Elon ini menjadi basis operasi Altavista Company, sebuah search engine di Internet.

Langkah exit strategy startup Elon Musk ini tepat karena terbukti Google menjadi pemain tunggal dalam layanan Google Maps-nya. Yahoo aja kalah dari Google. Altavitsa Company gagal dan tak beroperasi pada 2013.

Pesan moralnya tak semua startup bisa sustainable dalam jangka panjang.  Kalau langkah exit strategy startup seperti diatas gimana nasib investor ya ?

Artikel lain mengenai monetisasi sosial media, perkembangan chatbot dan platform video berbayar terbaik bagi influencer. 

Sharing is caring!

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *