PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU) berhasil membukukan kinerja menarik ketika sektor konsumer alami tekanan ditengah masa pandemi Covid-19.  Pada hasil result di 2021 KEJU membukukan kineja solid dengan kenaikan pendapatan dan laba bersih secara signifikan. Produsen keju dengan merek prochidz mencetak performa yang bagus.

Dikutip dari keterbukaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 2 Maret 2022, penjualan KEJU mencapai Rp1 triliun pada 2021 atau naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp961 miliar. Laba bruto sebesar Rp336 miliar atau naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp293 miliar. Kontribusi terbesar penjualan perusahaan produsen keju dengan merek Prochiz itu berasal dari keju kotak dengan mencapai Rp887 miliar dan lembaran mencapai Rp141 miliar.

Setelah dikurangi beban penjualan, beban umum dan administrasi maka KEJU berhasil meraup laba bersih sebesar Rp144 miliar atau naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp121 miliar. Hal ini mengerek laba per saham perusahaan menjadi Rp96,47 per saham.

Yang menarik dari capaian ini adalah Return Of Equity (ROE) perusahaan yang mencapai 25 persen. Terus terang saja tak banyak emiten konsumer yang berhasil mencapai ROE double digit pada 2021. Beberapa di antaranya adalah PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dan PT Unilever Indonesia (UNVR).

Jumlah ekuitas  sebesar Rp585 miliar atau naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp440 miliar. Kenaikan ekuitas diiringi dengan penurunan utang hingga mencapai sebesar Rp181 miliar. Aset juga naik dengan mencapai Rp767 miliar.

Performa perusahaan bukan tanpa tantangan karena bahan baku menghuni lebih dari setengah beban pokok pendapatan perseroan. Namun kemampuanya menaikan margin kotor dan bersih pada tahun yang menantang di 2021 menjadi catatan menarik tersendiri.

Saat ini, saham KEJU diperdagangkan pada Price Earning Ratio (PER) 16x atau masih dibawah UNVR dengan PER 23x dan SIDO dengan PER 28x.

Tekanan Margin Saham Konsumer

Namun HMSP dan UNVR masih alami tekanan di tahun ini karena kenaikan cukai rokok serta kenaikan harga CPO. Kenaikan cukai rokok membuat harga rokok semakin dituntut kompetitif dengan pesaingnya. Sementara kenaikan harga komoditas CPO bisa berdampak ke penurunan margin Unilever yang sebagian besar menggunakan bahan baku itu untuk produknya.

Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Philip Morris International, HMSP membukukan penjualan 82,8 miliar batang rokok sepanjang 2021. Jumlah ini meningkat 4,3 persen dari realisasi penjualan rokok tahun sebelumnya sebesar 79,5 miliar batang.

Kenaikan ini karena HMSP tak menaikan kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) pada 2021. Ini yang menekan margin HMSP sehingga mencapai 7,7 persen dari 10 persen. (perbandingan kuartal III 2021 dengan kuartal III 2020).

Kenaikan harga jual jelas menjadi masalah ketika daya beli indonesia belum pulih. Inflasi yang masih di kisaran 1-2 persen pada 2021 menjadi indikatornya. Hal ini yang bisa juga bisa dialami UNVR karena kenaikan komoditas kelapa sawit di awal 2022. Kinerja HMSP dan UNVR sudah melemah di 2021. Daya beli yang berpacu dengan komoditas menjadi kunci perbaikan kinerja keduanya pada 2022.

Artikel lain mengenai saham.

Sharing is caring!

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *